Seni Hummus: Panduan Rasa Asli

2

Hummus, olesan berbahan dasar buncis yang disukai, telah menjadi bahan perdebatan sengit. Meskipun banyak sekali resep yang mengklaim menggunakan metode “terbaik”, prinsip intinya tetap sederhana: ubah bahan-bahan sederhana menjadi hidangan yang lezat dan memuaskan. Panduan ini menghilangkan kebisingan, mengeksplorasi asal-usul, komponen penting, dan teknik praktis untuk membuat hummus yang luar biasa di rumah.

Asal Usul Hummus B’Tahini

Kata “hummus” berarti “buncis” dalam bahasa Arab. Sebutan lengkap untuk penyebaran yang kita kenal sekarang adalah hummus b’tahini – tahini hummus. Ini menyoroti dua bahan utama: buncis dan tahini. Referensi tertulis paling awal tentang tahini berasal dari abad ke-10 dalam Kitab al Tabikh, sebuah buku masak berbahasa Arab dari Bagdad modern. Teks tersebut menggambarkan “tahin al simsim,” atau pasta wijen, yang sering dioleskan di atas roti dengan daging kering. Istilah “tahini” sendiri berasal dari akar bahasa Arab yang berarti “menggiling”, yang mencerminkan metode persiapan tradisionalnya.

Secara historis, tahini juga dipadukan dengan madu atau sirup kurma untuk membantu pencernaan, dan disajikan dalam makanan yang dipanggang. Saat ini, popularitas tahini melonjak secara global, didorong oleh peran penting tahini dalam masakan Arab, khususnya di wilayah Levant yang menjadikan tahini lebih menonjolkan hidangan seperti hummus dan halva.

Pentingnya Kualitas Tahini

Tahini yang terbuat dari biji wijen giling sangat bervariasi tergantung jenis biji dan pengolahannya. Biji yang dikuliti dan dipanggang menghasilkan rasa yang lebih pedas, sedangkan biji yang tidak dikupas menambah rasa pahit yang menyenangkan. Meskipun beberapa orang bersikeras menggunakan biji wijen Ethiopia karena terroirnya, proses penggilingan dan kesegarannya lebih penting.

Utamakan kualitas: Hindari tahini dengan tambahan minyak, garam, pengemulsi, atau perasa, karena dapat mengurangi rasa wijen murni. Tahini Lebanon atau Palestina sering kali menjadi pilihan yang dapat diandalkan karena menawarkan tekstur yang halus. Cara terbaik untuk menemukan preferensi Anda? Cicipi merek yang berbeda – rasanya harus nikmat, tanpa sisa rasa pahit atau asam.

Buncis yang Sederhana

Buncis telah dibudidayakan setidaknya sejak 10.000 SM di Bulan Sabit Subur. Penyebarannya di Timur Tengah, Asia Selatan, dan sekitarnya masih menjadi misteri. Suatu saat dalam sejarah, seseorang pertama kali menggabungkan tahini dan buncis, dan resep awalnya muncul di buku masak Suriah abad ke-13. Resep ini menggunakan buncis tumbuk yang diberi campuran tahini-cuka, kenari tumbuk, jus lemon, dan rempah-rempah.

Membuat Hummus di Rumah: Tips Praktis

Banyak yang ragu membuat hummus di rumah karena dianggap rumit. Namun, hal ini sepenuhnya dapat dicapai dengan pendekatan yang tepat. Penulis menyarankan membuat hummus tiga kali seminggu saat mengantar anak ke sekolah, memakan waktu sekitar sepuluh menit. Kuncinya? Menggunakan buncis dan melewatkan food processor.

Poin penting:

  • Kalengan vs. Kacang buncis: Buncis kalengan umumnya memiliki tekstur yang lebih unggul dan menghindari sisa rasa yang tidak enak dari beberapa varietas kalengan.
  • Memasak Dari Awal: Jika menggunakan buncis kering, tambahkan soda kue ke dalam air rebusan untuk mempercepat pelunakan. Masak hingga hancur untuk kehalusan maksimal.
  • Lewati Pengolah Makanan: Blender dapat kesulitan dengan campuran yang kental sehingga menghasilkan konsistensi seperti sup. Blender pencelupan dalam jumlah kecil lebih efektif.
  • Eksperimen Rasa: Beberapa orang lebih menyukai bawang putih, tetapi bawang putih cepat teroksidasi sehingga menimbulkan aroma yang tidak sedap. Kesederhanaan bisa menjadi kuncinya; jus lemon, garam, dan tahini yang banyak seringkali sudah cukup.

Kesegaran Itu Penting

Hummus paling enak dinikmati segar. Di Yerusalem, penjual kadang-kadang menambahkan hummus dengan saus asam tahini-lemon, namun para penganut paham puritan berpendapat bahwa hummus terbaik tidak perlu diganggu. Inti dari hummus yang enak terletak pada keseimbangannya – bukan pada penambahan yang rumit, tetapi pada kualitas bahan dan keterampilan menyatukannya.

Pada akhirnya, hummus terbaik adalah yang paling Anda nikmati. Saran penulisnya lugas: utamakan bahan-bahan segar, teknik sederhana, dan kemauan bereksperimen.

Hummus lebih dari sekedar resep; ini adalah bahan pokok budaya, sebuah bukti bagaimana bahan-bahan sederhana dapat menciptakan sesuatu yang luar biasa.