Media Olimpiade Mengungkap Bias Gender dalam Pemberitaan Olahraga

5

Olimpiade Paris tidak hanya menyoroti prestasi atletik, namun juga ketidakseimbangan dalam pemberitaan media. Bintang bola basket veteran Diana Taurasi berhadapan langsung dengan wartawan dan menunjukkan standar ganda di mana pengalaman puluhan tahun dibingkai sebagai kelemahan bagi atlet wanita—sementara umur panjang yang sama juga dirasakan oleh atlet pria.

Standar Ganda dalam Liputan Olahraga

Rasa frustrasi Taurasi berasal dari pertanyaan berulang-ulang tentang potensi pensiunnya, menyoroti bagaimana perempuan dalam olahraga sering kali didorong ke arah keusangan sementara atlet laki-laki diizinkan berkompetisi tanpa batas waktu. Tanggapannya—yang mempertanyakan kelanjutan karier seorang veteran pada dasarnya tidak sopan—tergaung dalam konferensi pers yang didominasi laki-laki.

Reporter tersebut, yang meliput Olimpiade pertamanya, mengamati secara langsung bahwa ruang media sebagian besar ditempati oleh laki-laki yang lebih tua, sebuah detail yang menggarisbawahi kesenjangan gender yang sistemik dalam jurnalisme olahraga. Ini bukan hanya soal angka; ini tentang bagaimana atlet perempuan diperlakukan dibandingkan rekan laki-laki mereka.

Kebangkitan Olahraga Wanita—dan Perlunya Liputan yang Penuh Hormat

Rekor jumlah penonton dan peningkatan pendapatan dalam olahraga wanita merupakan tren positif, namun hal tersebut tidak ada artinya jika para atlet tidak merasa aman dan dihormati. Olimpiade, di mana para atlet wanita sering kali menghadapi pengawasan ketat dan ekspektasi yang tidak adil, adalah contoh utama dari ketidakseimbangan ini.

Pengalaman reporter di Paris menjadi sebuah peringatan: penyampaian cerita yang lebih baik memerlukan jurnalisme yang lebih berani. Atlet terbaik berhak mendapatkan rasa hormat dan pengakuan yang sama seperti atlet pria.

Warisan Taurasi Berlanjut

Pada hari terakhir Olimpiade Paris, Diana Taurasi memenangkan medali emas keenamnya, memperkuat posisinya sebagai pemain bola basket paling berprestasi dalam sejarah Olimpiade. Kemenangannya menjadi pengingat yang kuat bahwa atlet wanita dapat mencapai puncak olahraga mereka sambil tetap menghadapi bias sistemik di media.

Olimpiade Paris menggarisbawahi bahwa mendukung olahraga perempuan berarti tidak hanya merayakan kemenangan mereka, namun juga membongkar struktur usang yang melemahkan karier dan warisan mereka.