Putusnya Hubungan: Panduan untuk Perpisahan Sementara

21

Saran tentang “putusnya” suatu hubungan bisa sangat mengejutkan. Ini bukan perpisahan, tapi rasanya dekat dan tidak nyaman. Pasangan mempertimbangkan perpisahan karena berbagai alasan—jarak untuk mendapatkan kejelasan, pertumbuhan pribadi, atau konflik yang belum terselesaikan—tetapi prosesnya memerlukan pertimbangan yang cermat. Menurut psikolog klinis, istirahat dapat menyembuhkan jika ditangani dengan benar, namun juga membawa risiko jika dilakukan dengan santai.

Mengapa Mempertimbangkan Istirahat?

Putusnya hubungan bukan tentang lari dari masalah, melainkan menciptakan ruang untuk refleksi diri yang jujur. Para ahli berpendapat bahwa jarak dapat menyoroti pola-pola yang tidak sehat dan memungkinkan individu untuk menilai kebutuhan mereka tanpa tekanan langsung dari suatu kemitraan.

Namun, perpisahan bukanlah solusi jika Anda hanya takut mengakhiri hubungan, mencari validasi eksternal melalui orang lain, atau menggunakannya sebagai bentuk hukuman. Dalam hal ini, komunikasi langsung sangatlah penting.

Berapa Lama Istirahat Harus Berlangsung?

Tidak ada durasi yang ditentukan. Panjang idealnya tergantung alasan putusnya dan kesepakatan bersama. Terapis sering merekomendasikan waktu maksimal empat hingga enam minggu. Selain itu, periode “krisis” cenderung berkembang menjadi adaptasi—baik sehat maupun tidak—atau berkembangnya mekanisme penanggulangan.

Peraturan Dasar Penting untuk Istirahat yang Sukses:

  1. Tetapkan Batasan yang Jelas: Tentukan perilaku yang dapat diterima, termasuk frekuensi komunikasi, interaksi sosial, dan potensi eksklusivitas. Membatasi kontak dapat meminimalkan komplikasi lebih lanjut.
  2. Sepakati Aturan Komunikasi: Tetapkan bagaimana, kapan, dan apakah Anda akan berkomunikasi selama istirahat. Menghormati batasan satu sama lain sangatlah penting.
  3. Tentukan Eksklusivitas: Apakah Anda akan berkencan dengan orang lain? Para ahli menyarankan untuk tidak melakukan hal ini, karena hubungan baru dapat mengaburkan penilaian terhadap kemitraan awal.
  4. Pertimbangkan Anak-Anak: Jika memungkinkan, diskusikan cara menjelaskan situasi tersebut kepada anak-anak dengan cara yang sesuai dengan usianya, dengan menekankan keselamatan dan stabilitas mereka.
  5. Prioritaskan Perawatan Diri: Terlibat dalam aktivitas yang memupuk pertumbuhan pribadi dan menghubungkan kembali Anda dengan aspek-aspek diri yang terabaikan.
  6. Menilai Kembali Ekspektasi: Identifikasi ekspektasi tidak realistis yang mungkin berasal dari hubungan masa lalu dan bukan hubungan saat ini.
  7. Menjaga Tanggung Jawab: Melanjutkan komitmen finansial dan pengasuhan anak untuk menghindari drama yang tidak perlu.
  8. Evaluasi Akar Penyebab: Sebelum memulai jeda, tinjau kembali mengapa hal itu diperlukan. Apakah ini merupakan solusi sementara atau pertanda masalah yang lebih dalam dan tidak dapat diperbaiki?

Ketika Istirahat Bisa Menjadi Bumerang:

Misalnya, mengambil jeda untuk menghindari penanganan perselingkuhan adalah tindakan yang kontraproduktif. Para ahli berpendapat bahwa situasi seperti itu memerlukan konfrontasi dan terapi langsung daripada perpisahan sementara. Putusnya hubungan dalam hal ini justru bisa mempercepat rusaknya hubungan.

Intinya:

Putusnya hubungan dapat menjadi alat yang berharga untuk penemuan diri dan renovasi hubungan, tetapi hanya jika didekati dengan niat, batasan yang jelas, dan saling menghormati. Jika ditangani secara sembarangan, hal itu dapat dengan mudah berubah menjadi perpisahan yang seharusnya mereka hindari.