Debat Susu Utuh: Mengapa Trump, RFK Jr., dan Pedoman Baru Mengalihkan Percakapan

14

Dukungan baru-baru ini dari tokoh-tokoh seperti Presiden Trump dan Robert F. Kennedy Jr., ditambah dengan Pedoman Diet untuk Orang Amerika (DGA) yang diperbarui, telah menghidupkan kembali perdebatan mengenai apakah susu murni harus menjadi makanan pokok orang Amerika. DGA sekarang merekomendasikan hingga tiga porsi produk susu berlemak penuh setiap hari, karena mengakuinya sebagai sumber protein esensial, lemak, vitamin, dan mineral. Pergeseran ini menandai perubahan signifikan dari pesan-pesan kesehatan masyarakat selama puluhan tahun yang lebih mengutamakan pilihan makanan rendah lemak atau skim.

Evolusi Saran Diet: Dari Bebas Lemak menjadi Penuh Lemak

Selama bertahun-tahun, otoritas kesehatan mendesak masyarakat Amerika untuk memilih susu bebas lemak untuk memerangi meningkatnya angka obesitas dan penyakit jantung. Logikanya jelas: mengurangi asupan lemak akan meningkatkan kesehatan jantung. Namun, terlepas dari saran ini, obesitas dan penyakit jantung terus meningkat, sehingga mendorong evaluasi ulang pedoman yang ada. Pertanyaan intinya adalah apakah penekanan pada produk susu rendah lemak merupakan pendekatan yang tepat, atau apakah gambaran pola makan yang lebih luas memerlukan penyesuaian.

Mengapa Sekarang Berubah?

DGA baru mengakui bahwa susu murni (dan produk susu berlemak penuh lainnya) dapat dimasukkan ke dalam pola makan seimbang, namun memperingatkan terhadap asupan lemak jenuh yang berlebihan. Para ahli seperti Alison Ruffin, ahli diet terdaftar, menekankan bahwa memilih susu yang “tepat” semakin membingungkan mengingat banyaknya pilihan pasar. Kesimpulan utamanya adalah bahwa rekomendasi diet tidak berlaku untuk semua; preferensi individu dan masalah diet secara keseluruhan.

Jika orang lebih menyukai rasa susu utuh dan, sebagai hasilnya, mengonsumsi lebih banyak produk susu, hal ini mungkin merupakan dampak positif dibandingkan dengan minuman manis. Namun, ada kekhawatiran bahwa mempromosikan susu murni dapat menyebabkan konsumsi lemak jenuh yang berlebihan sehingga mengganggu tujuan kesehatan.

Apa Kata Sains?

Ahli jantung seperti Randy Gould menunjukkan bahwa susu murni mengandung kadar lemak total dan lemak jenuh yang lebih tinggi dibandingkan susu skim atau susu alternatif rendah lemak. Bagi individu dengan penyakit jantung, kolesterol tinggi, atau ingin menurunkan berat badan, pilihan rendah lemak tetap lebih baik. Namun, penelitiannya beragam. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan lemak dalam produk susu memiliki dampak netral terhadap penyakit kardiovaskular, sementara penelitian lain menunjukkan adanya hubungan antara susu tinggi lemak dan peningkatan risiko penyakit jantung koroner.

Salah satu manfaat susu murni adalah kemampuannya membantu menyerap vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, K) dan meningkatkan rasa kenyang, sehingga berpotensi membantu pengelolaan berat badan. Namun para ahli seperti Scott Feitell menekankan bahwa uji coba yang kuat untuk membuktikan keunggulan satu jenis dibandingkan jenis lainnya masih kurang.

Kesehatan Tulang dan Kepadatan Nutrisi

Semua jenis susu sapi menyediakan kalsium dan vitamin D penting yang penting untuk kesehatan tulang. Tingkat nutrisi antar varietas sebanding, dengan sedikit perbedaan pada kandungan vitamin D. Kandungan lemaknya sendiri tidak mempengaruhi kesehatan tulang; banyak susu rendah lemak sekarang difortifikasi untuk memastikan asupan vitamin yang cukup.

Intinya: Pilihan Pribadi dalam Diet Seimbang

Memasukkan produk susu ke dalam pola makan Anda umumnya bermanfaat, tetapi jenis *yang mana yang Anda pilih bergantung pada status kesehatan dan kebiasaan makan Anda. Susu murni mungkin cocok untuk anak-anak, orang yang membutuhkan kalori ekstra, atau mereka yang lebih menyukai rasanya. Namun, mereka yang berisiko terkena penyakit jantung atau ingin menurunkan berat badan harus tetap memilih pilihan rendah atau tanpa lemak.

Faktor terpenting adalah menjaga pola makan seimbang dengan banyak sayur, buah, biji-bijian, dan protein tanpa lemak, sekaligus membatasi makanan olahan. Pedoman baru ini bukan merupakan dukungan terhadap konsumsi susu utuh yang tidak dibatasi; sebaliknya, mereka mengakui bahwa ini dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat jika dikonsumsi dengan penuh kesadaran.