Sebuah studi baru menegaskan bahwa apa yang Anda makan secara langsung mempengaruhi jumlah pestisida dalam sistem Anda. Para peneliti menemukan korelasi kuat antara kadar pestisida yang lebih tinggi dalam sampel urin dan konsumsi buah-buahan dan sayuran yang diketahui membawa residu lebih tinggi, seperti stroberi, bayam, dan paprika. Ini berarti pilihan makanan Anda bukan hanya soal nutrisi; mereka juga merupakan faktor kunci dalam seberapa banyak paparan Anda terhadap bahan kimia yang berpotensi berbahaya.
Зміст
Mengapa Ini Penting: Kekhawatiran yang Berkembang
Pestisida telah lama dikaitkan dengan masalah kesehatan yang serius, termasuk kanker, masalah reproduksi, gangguan hormon, dan kerusakan saraf, terutama pada anak-anak. Meskipun mengonsumsi produk pangan sangat penting untuk pola makan yang sehat, penelitian ini memperkuat bahwa produk tersebut juga dapat menjadi jalur paparan pestisida yang signifikan bagi jutaan orang Amerika. Temuan ini menggarisbawahi perlunya pemantauan dan regulasi yang lebih baik—dan mungkin mendorong lebih banyak orang untuk mempertimbangkan kembali kebiasaan makan mereka.
Bagaimana Studi Dilakukan
Para peneliti di Kelompok Kerja Lingkungan (EWG) menganalisis data dari Departemen Pertanian AS (USDA) tentang residu pestisida dalam produk antara tahun 2013 dan 2018. Mereka menggabungkan data ini dengan survei pola makan dan data biomonitoring urin dari hampir 2.000 peserta dalam Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional (NHANES) Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).
Dengan menggunakan informasi ini, mereka mengembangkan “skor paparan pestisida dalam makanan” untuk memperkirakan paparan individu berdasarkan jenis produk yang dimakan dan tingkat residu yang terdeteksi. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan 15 biomarker pestisida yang ditemukan dalam sampel urin, yang mewakili tiga kategori kimia utama: organofosfat, piretroid, dan neonikotinoid.
Temuan Utama: Pola Makan, Campuran, dan Kesenjangan dalam Pemantauan
Analisis tersebut mengkonfirmasi bahwa orang yang makan lebih banyak produk dengan residu tinggi terbukti memiliki kadar pestisida lebih tinggi dalam urin mereka. Namun penelitian ini juga mengungkapkan beberapa poin penting:
- Pola makan itu penting: Pilihan pola makan adalah pendorong utama paparan pestisida.
- Pemantauan belum lengkap: Biomonitoring yang ada saat ini hanya melacak sebagian kecil jumlah pestisida yang ada pada makanan.
- Paparan melibatkan campuran: Konsumen terpapar pada campuran bahan kimia pertanian yang kompleks, jauh melampaui apa yang dapat ditangkap oleh pengujian saat ini.
- Kentang memperumit masalah: Memperkirakan paparan pestisida dari kentang memerlukan studi lebih lanjut karena metode konsumsinya bervariasi.
Masalah Peraturan: Perlunya Penilaian Kumulatif
Temuan ini menimbulkan pertanyaan tentang kecukupan standar keamanan pestisida yang ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA). EPA biasanya menetapkan batasan untuk masing-masing pestisida, namun tidak sepenuhnya memperhitungkan dampak kumulatif dari berbagai residu yang umum ditemukan pada produk. Artinya, meskipun satu pestisida berada dalam batas aman, paparan gabungan tersebut masih dapat menimbulkan risiko.
“Studi ini hanya dapat dilakukan berkat data federal yang kuat, yang menyoroti mengapa lembaga kesehatan masyarakat yang kuat harus tetap menjadi prioritas utama bagi para pembuat kebijakan,” kata Varun Subramaniam, analis sains EWG.
Yang Dapat Anda Lakukan: Pilihan Berdasarkan Informasi dan Pilihan Organik
EWG merekomendasikan untuk terus mengonsumsi makanan yang kaya akan buah-buahan dan sayuran, baik yang ditanam secara konvensional maupun organik. Beralih ke produk organik, yang menghindari pestisida sintetis tertentu, dapat menurunkan biomarker pestisida dalam tubuh secara signifikan dalam beberapa hari.
Pada akhirnya, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya memahami dari mana makanan Anda berasal dan membuat pilihan berdasarkan informasi tentang apa yang Anda masukkan ke piring Anda.

































