Tren Meningkatnya Orthorexia: Ketika Makan Sehat Menjadi Tidak Sehat

22

Upaya untuk mencapai kesehatan telah menemui jalan buntu bagi sebagian orang, dengan semakin banyaknya orang yang mengalami orthorexia—obsesi tidak sehat terhadap pola makan “bersih” atau “murni”. Meskipun tidak ada yang salah dengan menjaga pola makan yang sehat, ortoreksia mendorong hal ini ke wilayah yang berbahaya, menyebabkan kecemasan, isolasi sosial, dan keterikatan yang kaku pada kemurnian makanan.

Apa itu Ortoreksia?

Orthorexia belum menjadi diagnosis resmi dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), namun para ahli gangguan makan menyadari bahwa hal ini semakin mengkhawatirkan. Para ahli diet menggambarkannya sebagai keasyikan dengan pola makan sehat yang kemudian berubah menjadi perilaku obsesif. Ini bukan tentang makanan, tapi lebih tentang upaya tanpa henti untuk makan “benar”, yang sering kali dipicu oleh informasi yang salah dan standar online yang tidak realistis.

Tanda-Tanda Anda Mungkin Melewati Batas

Kondisi ini mungkin sulit dikenali, bahkan bagi para profesional. Berikut adalah beberapa indikator utama:

  • Pembatasan Ekstrim: Menghentikan seluruh kelompok makanan tanpa keperluan medis, seperti menolak semua makanan olahan atau hanya mengonsumsi pilihan “organik”.
  • Peraturan yang Kaku: Menciptakan peraturan pola makan yang tidak fleksibel, seperti tidak pernah mengizinkan nasi putih atau hanya makan coklat.
  • Isolasi Sosial: Menghindari acara sosial karena masalah makanan, menolak rencana karena Anda tidak dapat menjamin kemurnian makanan.
  • Analisis Obsesif: Menghabiskan waktu berlebihan untuk meneliti daftar bahan, merencanakan makan berjam-jam, dan meneliti asal usul makanan secara kompulsif.
  • Kecemasan dan Rasa Bersalah: Mengalami kecemasan atau rasa bersalah yang hebat saat melanggar aturan makanan yang dibuat sendiri.

Mengapa Ini Terjadi?

Meningkatnya ortoreksia sebagian disebabkan oleh banyaknya saran nutrisi yang tersedia secara online, yang sebagian besar menyesatkan atau ekstrem. Media sosial memainkan peran penting, dengan para influencer mempromosikan diet ketat dan menjelek-jelekkan makanan tertentu. Tekanan ini, ditambah dengan obsesi masyarakat yang lebih luas terhadap kesehatan dan kesejahteraan, menciptakan tempat berkembang biaknya pola makan yang tidak teratur.

Apa yang Dapat Anda Lakukan?

Jika Anda mengenali perilaku ini pada diri Anda atau seseorang yang Anda kenal, bantuan profesional sangat penting. Ahli diet terdaftar yang berspesialisasi dalam gangguan makan dan terapis dapat memberikan dukungan dan bimbingan.

  • Cari Bantuan Profesional: Ahli diet atau terapis dapat menilai apakah kebiasaan makan Anda sehat atau berubah menjadi obsesif.
  • Cakupan Asuransi: Kebanyakan ahli diet menerima asuransi, sehingga pengobatan dapat diakses.
  • Intervensi Dini: Mengatasi ortoreksia sejak dini sangat penting untuk mencegahnya berkembang menjadi gangguan makan yang parah.

Gambaran Lebih Besar: Kesempurnaan vs. Keberlanjutan

Makan sehat harus menjadi gaya hidup berkelanjutan, bukan obsesi untuk melakukan semua atau tidak sama sekali. Penting untuk menolak gagasan nutrisi “sempurna” dan menerima fleksibilitas. Berfokuslah pada variasi, kepadatan nutrisi, dan biarkan diri Anda sesekali memanjakan diri tanpa rasa bersalah.

Pada akhirnya, ortoreksia berfungsi sebagai pengingat bahwa upaya kesehatan yang bertujuan baik pun bisa berbahaya jika dilakukan secara ekstrem. Kuncinya adalah menemukan keseimbangan, mempraktikkan rasa welas asih, dan ingat bahwa perjalanan seumur hidup menuju kesehatan bukanlah tentang aturan yang kaku—tetapi tentang membuat pilihan berkelanjutan yang menyehatkan tubuh dan pikiran.