Retorika vs. Agama: Para Ahli Mencela Serangan “Aneh” Trump terhadap Paus Leo XIV

13

Keretakan yang semakin dalam muncul antara Presiden Donald Trump dan Vatikan, menyusul serangkaian serangan verbal yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh Presiden tersebut terhadap Paus Leo XIV. Para pakar agama dan teolog menilai retorika Trump baru-baru ini—khususnya klaimnya bahwa Paus “menyukai kejahatan”—sebagai kesalahpahaman mendasar mengenai kepausan dan penyimpangan yang aneh dari norma-norma politik.

Sang Katalis: Benturan Visi Global

Ketegangan meningkat setelah segmen 60 Menit menampilkan para kardinal Amerika yang membahas sikap Paus yang semakin langsung terhadap konflik internasional, khususnya mengenai perang AS-Israel di Iran. Sebagai tanggapan, Presiden Trump melancarkan serangan multi-cabang terhadap Truth Social dan dalam konferensi pers, menuduh Paus:

  • “Lemah dalam kejahatan” dan “buruk untuk kebijakan luar negeri.”
  • Seorang “politisi” dan bukan pemimpin agama.
  • Lebih menyukai aktivitas kriminal, menyatakan dalam pengarahan Minggu malam, “Menurut saya dia tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, dia menyukai kejahatan, menurut saya.”

Trump juga berpendapat bahwa pemilihan Leo—Paus kelahiran AS pertama dalam sejarah—merupakan langkah strategis Gereja untuk “menangani” pemerintahannya.

Menguraikan Tuduhan “Kejahatan Lembut”.

Para ahli berpendapat bahwa penggunaan terminologi hukum dan ketertiban oleh Presiden terhadap seorang pemimpin agama secara logis tidak berhubungan dengan realitas kepausan.

Robert Orsi, seorang profesor studi agama di Universitas Northwestern, mencatat bahwa Trump tampaknya “menggunakan kembali” slogan-slogan politik dari tahun 1960an dan 70an. “‘Lembut terhadap kejahatan’ adalah pokok pembicaraan utama pemerintahan Nixon,” kata Orsi, seraya mencatat bahwa menerapkan label seperti itu kepada seorang Paus adalah “tidak bermartabat” dan tidak masuk akal dalam konteks teologis.

Profesor teologi Peter Casarella dari Duke Divinity School menawarkan perspektif berbeda mengenai tuduhan “kejahatan”. Dia berpendapat bahwa Trump mungkin berusaha “membalikkan keadaan” atas kritik Paus mengenai perlakuan terhadap migran dan keamanan perbatasan. Dengan melabeli Paus sebagai seseorang yang “menyukai kejahatan,” Trump mungkin mencoba untuk membingkai keprihatinan kemanusiaan Paus sebagai ancaman terhadap keamanan dalam negeri Amerika.

“Masalah yang jelas adalah tidak ada Paus yang pernah mengatakan bahwa perilaku kriminal boleh-boleh saja atau bahwa perbatasan harus dihilangkan,” kata Casarella. “Tak satu pun dari posisi tersebut sejalan dengan ajaran Kristus atau Gereja.”

Pertahanan Teologis Perdamaian

Konflik ini menyoroti ketidaksepakatan mendasar mengenai peran Paus dalam geopolitik modern. Meskipun Trump memandang seruan Paus untuk perdamaian sebagai campur tangan politik, para pakar berpendapat bahwa seruan ini merupakan persyaratan inti dari kantor tersebut.

  • Mandat Perdamaian: Para ulama berpendapat bahwa seruan perdamaian bukanlah sikap politik melainkan kewajiban agama. Mereka mengutip doktrin “Perang yang Adil”, yang memerlukan respons proporsional dan perlindungan warga sipil—prinsip yang bertentangan dengan ancaman kehancuran total peradaban.
  • Argumen “Gaslighting”: Deepak Sarma, seorang peneliti di Case Western Reserve University, menggambarkan komentar Trump sebagai “upaya terang-terangan untuk melakukan gaslighting.” Dia berargumen bahwa dengan secara salah mengaitkan simpati kriminal kepada Paus, Trump menggunakan pola retorika yang salah karakterisasi.
  • Dampak pada Suporter: Strategi retoris ini mungkin menjadi bumerang. Sarma mencatat bahwa meskipun taktik tersebut sering kali sejalan dengan basis inti Presiden, taktik tersebut tampaknya mengasingkan pemilih Katolik, dengan jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan dukungan terhadap Trump di kalangan umat Katolik turun di bawah 50%.

Tanggapan Paus

Paus Leo XIV mempertahankan sikap tenang dan tidak konfrontatif. Berbicara dari penerbangan ke Aljazair, Paus mengklarifikasi bahwa misinya berakar pada Injil dan bukan politik partisan.

“Saya tidak menganggap peran saya sebagai sesuatu yang politis… Saya tidak ingin berdebat dengannya,” kata Paus. Ia menekankan bahwa fokusnya tetap pada peningkatan dialog, multilateralisme, dan “pesan Injil,” yang memprioritaskan penciptaan perdamaian dibandingkan pertarungan politik.


Kesimpulan: Kebuntuan ini lebih dari sekadar perselisihan pribadi; ini adalah pertentangan antara doktrin politik populis yang berpusat pada keamanan nasional dan mandat agama tradisional yang berfokus pada kemanusiaan dan perdamaian global.